Anggun Juga Pernah Tampil Seksi dalam Konsernya…!!!

ANGGUN Juga Pernah Tampil Seksi dalam Konsernya di TIM, Jakarta

Anggun (45 tahun), seorang penyanyi kelahiran Indonesia yang kini berkewarganegaraan Perancis pernah juga tampil seksi dalam konsernya di Taman Ismail Marzuki sekitar tahun 2001 setelah doi mengeluarkan album Perancis-nya yang kedua yang bertajuk “Désirs Contraires/Chrysalis” (diproduseri oleh Erick Benzi).

Dalam konser tunggalnya di TIM Jakarta tersebut Anggun tampak mengenakan bustier berwarna hitam memamerkan kulit hitamnya yang eksotis serta celana jeans berwarna biru. Di sini rambut Anggun sudah dipangkas lebih pendek lagi yaitu sampai sebahu saja.

Anggun menyanyikan lagu-lagu dari album internasionalnya yang pertama yaitu “Anggun/Snow on The Sahara” (diproduseri Erick Benzi juga) dan juga lagu-lagu dari album internasionalnya yang kedua “Désirs Contraires” serta tidak ketinggalan lagu paling hit-nya semasa masih menjadi rocker dulu yaitu “Tua-tua Keladi”.

Santoli Pantjalogam

 

Backpacking to Vietnam, Paris of The Orient : The Story Inside

Backpacking to Vietnam,

Paris of The Orient : The Story Inside

Traveling ke LN dengan cara backpacking? Mengapa TIDAK… ??

Ayo, Guys rencanakan jauh-jauh hari perjalanan kamu, trus hunting tiket promo ke negara tujuan, dan ajak setidaknya satu orang teman untuk berangkat bareng supaya bisa saling menjaga, kalau ada beberapa orang teman itu jauh lebih baik karena kamu bisa lebih berhemat di sepanjang perjalanan, tetapi jangan terlampau banyak yang ikutan yah supaya tar gak ribet, xoxo…

Dengan berangkat secara rombongan, kamu bisa share biaya taksi, biaya penginapan sampai biaya makan sehingga uang dari hasil penghematan tersebut bisa dibelikan oleh-oleh yang lebih banyak lagi untuk keluarga maupun teman-teman. Aaasssyyyiiikkkk, kan… ??

Nah, kali ini Monsieur akan mengisahkan serunya berpetualang ala backpacker ke negara Vietnam.

** Monsieur adalah sebutan untuk guru pria di Perancis yang artinya adalah Sir/Mister dan biasa disingkat menjadi Mons (baca : Mon)

Beberapa tahun yang lalu yaitu tepatnya dari tanggal 29 Agustus 2013 hingga 4 September 2013 Mons main ke sana. Mulanya sih Mons pikir, “Ah, Vietnam tuh pastilah gak lebih bagus dari Indonesia, pasti bangunan-bangunannya masih sederhana…”

Eh, ternyata setelah sampai di Ho Chi Minh City (baca : Ho Chi Menh City), sebuah kota yang terletak di sebelah selatan Vietnam dan merupakan kota termoderen di Vietnam apa yang ada di pikiran Mons sebelumnya sama sekali tidak terbukti… !!

Di Ho Chi Minh City terdapat banyak banget bangunan megah seperti hotel-hotel, gedung-gedung perkantoran dan pusat-pusat perbelanjaan, berselang-seling dengan taman-taman kota dan bangunan-bangunan lama nan megah dan bersejarah seperti Gereja Katedral Notre Dame, kantor pos, Saigon Opera House dan Balai Kota Ho Chi Minh City yang merupakan peninggalan masa penjajahan Perancis di masa lalu. Di Ho Chi Minh City juga terdapat banyak banget café, pub, restoran dan tempat nongkrong di malam hari. Wow… !!

Di dalam buku ini Mons akan mengisahkan keseruan ketika menyusuri satu sisi kota demi satu sisi kota yang lain dari naik becak, bis, taksi hingga berjalan kaki, pertemuan dan perkenalan dengan orang-orang lokal maupun mancanegara, di sinilah Mons bisa mempraktekkan 5 bahasa sekaligus dimulai dari bahasa Inggris, Perancis, Mandarin, Cantonese hingga bahasa Melayu, dan Mons juga sempat mempelajari beberapa patah kata dalam bahasa Vietnam, lezatnya makanan khas Vietnam yaitu “pho” (baca : fa, mie kuah khas Vietnam) dan “banh mi” (baca : banh me, roti baguette ala Vietnam), perburuan souvenir di pasar Ben Thanh dan di toko-toko serta dari para pedagang kecil yang menjajakan barang dagangannya dengan berjalan kaki, plus nilai-nilai positif yang Mons dapatkan dalam perjalanan selama seminggu ini.

Thanks kepada Ahmad Fauzy dari Jakarta, seorang member grup “Belajar Bahasa Perancis” Mons di BBM yang telah mengajak Mons turut serta dalam perjalanan paling spektakuler di tahun ini… !! Hehe…

Dan, petualangan pun dimulai…

Pada tanggal 28 September 2013 pagi-pagi benar sekitar jam 5 an Mons sudah berangkat ke sebuah stasiun taksi/bis milik swasta yang terletak tidak begitu jauh dari rumah Mons untuk naik bis menuju ke Bandara Internasional Kuala Namu. Mons tinggal di kota Pematangsiantar, Sumut. Hanya butuh waktu sekitar 3 jam untuk mencapai bandara baru di Sumut tersebut.

Mons cuma membawa sebuah tas ransel ukuran sedang dan sebuah tas kamera (berisikan sebuah kamera DSLR plus tiga buah lensa, sebuah kamera digital biasa dan sebuah kamera digital waterproof untuk mengambil foto di dalam air), sebuah dompet, sebuah smartphone Blackberry dan sebuah hape Nokia. Sedangkan untuk tas ransel Mons mengisinya dengan sebuah netbook (gadget wajib nih supaya bisa OL ataupun melihat hasil foto), pakaian, sepasang sandal, larutan lensa kontak dan tempat lensa kotak, sedikit obat-obatan untuk berjaga-jaga (sebotol kecil Betadine, obat sakit perut, obat demam sampai plester), tisu, sikat gigi, odol, pembersih wajah, sebotol mouthwash, sebotol splash cologne, dan sebotol sabun mandi cair (tetapi sayang, ketiga item yang terakhir ini tidak boleh dibawa masuk ke dalam pesawat, mesti ditempatkan di bagasi. Daripada repot-repot lagi dan juga dikarenakan oleh waktu yang sudah mepet akhirnya Mons tinggalkan saja dah ketiga item tersebut di toilet bandara. Toh di negara tujuan bisa dibeli lagi, right?)

Walaupun barang bawaan Mons cukup berat tapi yah enjoy z lah. Dan terakhir setelah memanggul ransel selama beberapa hari di LN otot-otot lengan, pundak dan punggung Mons menjadi semakin liat lho, haha…

Itulah efek positif dari memanggul tas ransel yang cukup berat, xoxo…

Hanya dibutuhkan waktu sekitar 55 menit untuk terbang dari Bandara Internasional Kuala Namu, Sumatera Utara ke Kuala Lumpur, Malaysia. Cukup singkat, bukan? Bandingkan dengan rekan Mons yang terbang dari Jakarta ke KL yang membutuhkan waktu sekitar 2 jam.

Kami sama-sama naik pesawat Airasia sehingga mendaratnya juga sama yaitu di LCCT (Low Cost Carrier Terminal) di Kuala Lumpur. Walaupun kami sempat main tunggu-tungguan karena beda waktu tiba serta karena miskomunikasi, akhirnya Mons ketemu si Fauzy juga.

Kami menginap satu malam di KL sebelum terbang ke Ho Chi Minh City, Vietnam keesokan harinya. Selama di KL kami putuskan untuk jalan ke Menara Kembar Petronas kemudian ke kawasan perbelanjaan dan hiburan Bukit Bintang. Kami sempat juga merasakan pengalaman naik LRT (Light Rail Transit) yang mana pada saat itu yaitu di sore hari bertepatan dengan jam pulang kantor sehingga LRT-nya yang sudah lumayan sempit menjadi penuh sesak! Seru juga sih karena kami kan masing-masing memanggul tas ransel yang cukup besar sehingga orang-orang kemungkinana besar pada tahu kalau nih dua orang pasti backpacker, hehe…

Suasana malam di kawasan Bukit Bintang seru dan rame, banyak terdapat wisatawan asing di sana dan terkesan hectic. Kami stay di sebuah penginapan di kawasan Bukit Bintang dengan tarif 70 ringgit semalam. Ada yang bilang kemahalan sih, tetapi yah ga pa pa lah namanya juga lagi liburan, right?

Keesokan harinya pagi-pagi benar kami sudah naik taksi ke KL Central kemudian naik bis lagi kembali ke LCCT untuk naik pesawat ke Vietnam. Fauzy berangkat jam 7 pagi waktu Malaysia dengan pesawat Tiger sedangkan Mons berangkat pada sore harinya yaitu jam 14.55 waktu Malaysia dengan pesawat Airasia. Perjalanan dari KL menuju Ho Chi Minh City memakan waktu sekitar dua jam. Dan kami pun berpisah lagi untuk sementara waktu.

Setelah check in Mons duduk di ruang tunggu yang berada di depan boarding gate. Pada saat itu para penumpang pesawat yang mau berangkat ke Vietnam masih beberapa orang saja. Suasana ke-Vietnam-an mulai terasa ketika beberapa penumpang pesawat yang merupakan orang-orang Vietnam mulai ngobrol dalam bahasa mereka. Mons jadi canggung berada di antara kumpulan orang Vietnam tersebut. Di dalam hati Mons berkata kalau keadaannya seperti ini di Vietnam bisa berabe nih karena kelihatannya mereka pada gak ngerti bahasa Inggris sementara Mons sendiri gak ngerti bahasa Vietnam. Kebetulan orang yang duduk di samping Mons yaitu seorang wanita muda Vietnam bareng anak bayinya ngerti bahasa Mandarin sehingga kami bisa ngobrol-ngobrol sekedar basa-basi. Wanita muda ini ternyata bersuamikan seorang Malaysia dan sedang mau pulang kampung. Kepada beberapa penumpang lainnya Mons hanya bisa senyam-senyum saja deh karena mereka pada gak ngerti bahasa Mandarin ataupun bahasa Inggris, xoxo…

Sewaktu berada di ruang boarding gate, Mons merasa seakan-akan sudah menjadi orang Vietnam saja karena rata-rata orang-orang di dalam ruang itu merupakan orang Vietnam. Gaya berpakaian mereka cenderung kebarat-baratan, gadget yang mereka pakai pun rata-rata adalah iphone dan ipad. Wow…!! Mungkin inilah kalangan “the have” dari negara tersebut kali, yah? :’)

Singkat cerita, tibalah Mons di Bandara Tan Son Nhat, Ho Chi Minh City (baca : Tan Son Yat, Ho Chi Menh City) Bandaranya lumayan luas dan gedungnya bagus.

Yang membuat Mons takjub adalah bahwa bahasa Vietnam itu beda tulisannya dengan pelafalannya dan Mons pikir bahasa Vietnam tuh hampir mirip dengan bahasa Perancis di mana aksen-aksen yang digunakan juga hampir sama malah dalam bahasa Vietnam ada 6 aksen lagi sementara bahasa Perancis kan hanya mengenal 4 aksen saja. So, menurut kamu mana yang lebih rumit nih? :’)

Nada bicara orang Vietnam juga sepertinya dilagukan atau meliuk-liuk gitu, hehe… Mulanya Mons kan sering dengar di dalam pesawat asal sebuah pengumuman berakhir pasti diikuti oleh kalimat “Sin kam en”. Pada saat itu Mons meraba-raba kalau artinya tuh pasti adalah “Terima kasih”. Setelah beberapa hari di Ho Chi Minh City dan mencari tahu akhirnya Mons dapat juga kalau artinya tuh memang “Terima kasih”. Cara melagukannya yang unik, harus ditarik di bagian akhir katanya. Kalau ada “Sin” itu artinya seperti “Please” gitu dalam bahasa Inggris. Silakan bertanya kepada Paman Google untuk urusan penulisan dalam bahasa Vietnam-nya yah, Guys karena rumit tuh. Gunakan saja fasilitas Google translate.

Dan kini saatnya bagi Mons untuk membuktikan kebenaran dari setiap informasi yang selama ini Mons dapatkan dari internet dengan dunia yang sesungguhnya yaitu di negara Vietnam itu sendiri, tepatnya di Ho Chi Minh City atau kota Saigon. By the way, tahukah kamu Guys bahwa Saigon (baca Segong) adalah nama lama Ho Chi Minh City? Saigon sendiri merupakan nama sejenis pohon yang tumbuh di delta sungai Mekong.

# Kenyataan 1

Dari info yang Mons dapatkan dari hasil searching di internet dikatakan bahwa jika kita mau menukarkan uang kita (sebaiknya dalam bentuk USD karena bisa diterima dengan sangat baik di negara manapun) ke dalam dong, mata uang Vietnam bisa dilakukan di money changer yang terdapat di bandara. Dikatakan juga bahwa mata uang rupiah besarnya adalah hampir dua kali lipat dari “dong”, mata uang Vietnam. Dan ini TERBUKTI…!!

Mons menukarkan 100 USD (kurs pada saat itu 1 USD = Rp 11.350,- kalau Mons tidak salah ingat) di salah satu money changer dari beberapa money changer yang ada di bandara Tan Son Nhat dan Mons mendapatkan VND 2.083.000 (VND = Vietnam dong)

Asssyyyeeekkkk, jadi banyak nih uangnya! Xoxo…

Setelah menukarkan sejumlah “dong” Mons lalu menuju ke salah satu toko yang terdapat di dekat money changer untuk membeli kartu telepon provider Vietnam karena kartu telepon lokal tentu saja lebih ekonomis (kalau memakai kartu telepon dari Indonesia biaya roamingnya tuh yang gak nahan alias mahal banget, hiks…) Mons membeli kartu perdana dari provider bernama Viettel seharga 190.000 dong yang bisa digunakan untuk BBMan serta untuk mengakses media sosial selama seminggu! Murah, kan?

Sementara pramuniaga cewek di toko tersebut mengisi data dan sebagainya untuk mengaktifkan SIM card-nya, Mons menggunakan kesempatan yang ada untuk bertanya-tanya mencari info tentang tempat tinggal favorit para backpacker di Ho Chi Minh City dan bis untuk ke sana. Kebetulan ada seorang temannya yang fasih berbahasa Inggris sehingga komunikasi menjadi lancar.

# Kenyataan 2

Dari hasil searching di internet dikatakan bahwa tempat tinggal favorit para backpacker di Ho Chi Minh City adalah di Pham Ngu Lao Street (baca Fam Ngu Lao Street) yang terdapat di distrik 1 (ada sekitar 19 distrik di Ho Chi Minh City) dan ini TERBUKTI…!!

Mons mendapat info dari teman pegawai toko kartu telepon yang fasih berbahasa Inggris itu kalau mau pergi ke Pham Ngu Lao Street harus naik bis nomor 152 yang berhenti di depan bandara dengan biaya hanya 5.000 dong. Bis nomor 152 tersedia hanya sampai jam 6 sore saja di depan bandara. Sebagai info, biaya naik bis ke mana pun di Ho Chi Minh City yang selanjutnya akan Mons singkat menjadi HCMC adalah 5.000 dong (di internet ditulis 4.000 dong dan itu merupakan data lama) Murah meriah, kan? :’)

Rekan Mons yang sudah duluan sampai di HCMC telah mendapatkan tempat penginapan untuk kami yaitu di Sunrise Backpackers (semacam dormitory house gitu) yang terdapat di Pham Ngu Lao Street nomor 283/27. Sewaktu Mons masuk ke dalam bis dan membeli karcis dengan memasukkan uang ke dalam kotak karcis di sebelah supir, Mons langsung memberitahu sang supir tempat tujuan Mons dan sang supir dengan ramah memberitahu ketika bis sudah tiba di Pham Ngu Lao Street.

Ternyata Sunrise Backpackers (www.sunrisetravelvietnam.com) bukan berada di jalan utama di Pham Ngu Lao Street tetapi masuk lagi ke dalam (semacam jalan yang lebih kecil gitu). Mons pada saat itu agak kewalahan juga mencarinya, berjalan ke sana ke mari, bertanya ke sana ke mari tetapi para penduduk yang Mons tanyai tidak mengerti pula bahasa Inggris. Hape si Fauzy juga gak aktif. Seperti kata pepatah, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, akhirnya Mons menemukan juga tempat penginapan tersebut. Yuhuy…!!

Santoli Pantjalogam

10 Pertanyaan untuk Hartadi Putro, Sang Penjelajah (The Traveler)

10 Pertanyaan untuk Hartadi Putro, Sang Penjelajah (hasil wawancara saya dengan beliau beberapa tahun yang lalu)

  1. Mengapa suka traveling? Apa yang bisa kamu dapatkan melalui traveling?
  2. Mengapa lebih cenderung mengadakan perjalanan dalam negeri daripada di luar negeri?
  3. Negara kita tercinta Indonesia memiliki alam yang maha indah dan super eksotis. Apakah kamu pernah merasa “bosan” menjelajahi Indonesia karena kalau main ke alam terus pastilah view-nya hampir sama saja : laut yang membiru/menghijau, pasir berpasir putih, dan hal-hal lainnya semacam itu… Hehe…

By the way, daerah mana nih yang menjadi destinasi paling favorit kamu sejauh ini? (Hanya boleh sebutin 1 nama daerah yah dan apa alasannya?)

  1. Apakah kamu pengen menjadi seorang duta wisata Indonesia? Mengapa?
  2. Kamu bepergian tuh kebanyakan memakai biaya sendiri atau disponsori oleh operator pariwisata/sebagai endorse gitu? Bagaimana menurutmu masa depan seorang guide di Indonesia?
  3. Foto-foto dari hasil penjelajahan kamu semuanya apik-apik! Sepertinya kamu telah memilih fotografer yang tepat dan sesuai dengan tujuan yang ingin kamu sampaikan melalui foto-foto kamu tersebut. Bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan orang yang tepat untuk hal-hal seperti itu? Pernah gak terpikir oleh kamu untuk menjual foto-foto alam nan eksotis tersebut via internet? Saya jamin pasti prospeknya cerah banget lho. What do you think?
  4. Kamu lebih pilih yang mana : kerja kantoran atau jadi guide di bidang pariwisata dan apa alasan kamu memilihnya?
  5. Pernah gak terpikirkan olehmu untuk membuka sebuah biro perjalanan/biro pariwisata? Kalau ya, kamu pengen bukanya di kota/daerah mana? Mengapa?
  6. Apa kesan-kesan kamu terhadap para penduduk lokal yang kamu temui di sepanjang penjelajahan kamu? Mereka ramah-ramah dan gak sombong pastinya. Bagaimana dengan kehidupan mereka? Apakah mereka juga mengharapkan modernisasi masuk ke dalam kehidupan mereka?
  7. Apa harapan kamu akan peran serta pemerintah Indonesia terhadap pariwisata domestik? Apakah sektor pariwisata masih memegang peranan penting bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia?

Demikianlah ke-10 butir pertanyaan yang saya tulis untuk sang penjelajah kita dari Bandung, Mr. Hartadi Putro. Saya berharap lain kali saya bisa bergabung dalam petualangan seru kamu. Terima kasih dan sukses selalu.

Santoli Pantjalogam